ceritanila

Entries from August 2009

LAMPU YANG SEDANG SAKIT

August 3, 2009 · 1 Comment

Lampu,…Sekarang sudah mulai kambuh lagi nih penyakitmu, sudah kembali angot angotan lagi. Obat yang tempo hari dibeli ternyata belum bisa menuntaskan sakitmu yang makin parah. Tidak sekali dua kali dalam sehari kamu koma, bahkan bisa tiga hingga empat kali.

Duuh.. capek hati juga merasakan sakitmu. Lampu, kamu yang sakit, tapi kok kita semua jadi kena dan ikutan sakit. Banyak sekali akibat yang ditularkan. Misalnya pada si PC ku yang pentium tiga itu, kini dia sudah mulai batuk batuk pula. bahkan sering tiba tiba diam tak bergeming membisu. kami tak bisa mendapatkan manfaat lagi dari kehadirannya, terpaksalah dia di gotong dan dibawa kespesialisnya yang selalu rajin menerima kunjungan teman temannya akhir akhir ini.
Sang spesialis juga menyalahkanmu lampu, aku tak bisa menjawab ketika dia menyarankan menggunakan UPS. Apa dia pura2 tidak tahu ya.. Ups ku kan sudah 6 buah menumpuk di gudang dalam keadaan sekarat tanpa jelas apa penyakitnya. Malas saja aku membawanya ketempat perawatan khusus, ujung ujungnya ya beli alat pengganti yang nilainya hampir senilai UPS itu.
UPS ku yang terbaru bermerek terbaik seperti saran penjual komputer, terkadang sudah mulai ogah ogahan menyuplai listrik kepada PC lainnya.
Kalau begini terus menerus.. usahaku bisa babak belur juga.
Lampu kamu harus sehat, kamu harus mencari dokter spesilalis terbaik yang bisa menyembuhkan penyakitmu.
Bagaimanapun juga kuakui hanya kamu tempatku bergantung… bersandar untuk melanjutkan kehidupanku seterusnya.
Andai kamu memiliki teman rival yang lebih baik, mungkin penyakitmu tak begitu mengusikku,
aku tak akan sepusing ini memikirkan keadaanmu.
tapi apa daya, aku hanya orang biasa, suaraku juga tak ada gunanya, teriakanku hanya membuatmu makin dingin dan pucat.
Hanya saja aku berharap.. kasihani aku, kasihani PCku, kulkasku, mesin cuci, ac, mesin fax, dan yang lainnya itu… jangan sampai mereka ikutan sakit sepertimu.

Cepat sembuh ya Lampu..
Aku pasti mendoakanmu…apalagi sebentar lagi Ramadhan akan tiba,
mana mungkin si lilin yang akan menemani sahur kami.. terasa lucu kedengarannya.
melihat lauk dan makanan saat kamu terang benderang aja, selera makan sedikit. apalagi kalau makan di suasana remang remang…
tak mungkinlah Lampu.
Yang penting…. kamu periksa cepat kesehatanmu, sembuhkan dirimu. Agar kami bisa tersenyum kembali.
dan ikhlas membayar setiap tagihanmu padaku.

Categories: My Story

Seandainya Aku Masih Hidup Hingga Malam Nanti

August 1, 2009 · 1 Comment

Seandainya Aku Masih Hidup Hingga Malam Nanti
By Made Teddy Artiana

Seorang pria bertopi putih dan jaket hitam berjalan melintas. Ditangannya terlihat tas beroda yang terasa begitu berat. Berjalan memasuki sebuah ruangan dan tak lama kemudian..BUUUMMMMM !!!!

Entah sudah berapa kali video ini diputar oleh berbagai stasiun TV. Rasanya hampir setiap orang di Indonesia paling tidak pasti pernah menyaksikannya minimal satu kali. Pemboman Ritz Calton dan J.W. Marriot.

Tetapi baru kemarin malam aku melihat sisi lain dari video itu. Dan itu membuatku terpengarah…

Beberapa saat sebelum kejadian itu. Segalanya tampak biasa saja. Orang lalu lalang diloby. Penjaga pintu menyapa tamu dengan ramah. Demikian juga dua orang wanita, yang sedang bercakap-cakap begitu riang, berjalan menuju restaurant. Lalu seorang pria, dalam video yang berbeda, berbaju putih, bertubuh agak gemuk, berjalan mondar-mandir, kemudian perlahan-lahan seolah digiring berjalan kedalam restaurant dan tiba-tiba saja….BUMMMMMM !!!

Perhatikan ekspresi orang-orang itu.

Yang jelas, mereka semua sama sekali tidak memperkirakan kejadian itu. Asyik menjalani rutinitas dan tiba-tiba saja….maut merenggut. Tidak sempat berpamitan, tidak sempat mengucapkan maaf, dan tidak sempat memohon ampun.

Sebenarnya bukan hal yang baru. Sedang tidur-tiduran tiba-tiba saja ada pesawat nyasar yang menabrak rumah. Sedang asyik mengendara mobil eh ketimpa pohon yang tumbang. Sedang sarapan eh kena bom. Sedang ketawa-tawa eh ketimpa papan iklan. Main tenis kemudian kena serangan jantung. Dan selanjutnya…dan selanjutnya…skenario nya bisa jadi tak terbatas.

Siapakah yang dapat memperkirakan apa yang akan terjadi padanya satu menit kemudian dalam hidupnya ? Bahkan Mama Laurent yang biasa berkomentar : Si A akan begini, nanti begitu, besok beginu dan lain sebagainyapun pasti akan membisu, kalau saja diberi pertanyaan : “Ramalan Anda tentang hidup Anda sendiri bagaimana ?”. Seandainya dia tahu –tentunya dengan tidak menipu- aku akan berlari bugil mengitari Senayan !

Jika demikian,siapa yang dapat menjamin bahwa ia tetap masih hidup, satu jam kedepan ? Tidak ada.

Apakah benar hidup ini demikian rapuh ?

Bagi sebagian orang jawabannya adalah : ya ! Tetapi belum tentu buat yang lain. Banyak pula orang yang “dipanggil pulang” dengan cara yang mulia.

Sama sekali tidak bermaksud menghakimi siapapun. Tetapi jika seandainya aku mendapat kasih karunia untuk memilih, kiranya Ia mengijinkanku pulang dengan tenang. Setelah genap umurku, selesai tugasku dan dalam keadaan siap.

Takdir memang kadang terasa liar, bebas dan tidak berpihak. Easy come, easy go. Semau-maunya. Untunglah ada DIA, Sang Penguasa Takdir. Kehadiran Nya menjamin tidak akan ada yang kebetulan dalam hidup ini. Tidak ada.

Agaknya aku bukanlah pemilik sebenarnya diri ku. Hidup ini adalah milik-Nya. DIA lah pemilik tunggal : orang tua, istri, anak, tetangga, saudara dan teman. Pada saat Sang Pemilik ingin mengambilnya, maka tidak ada yang dapat mempertahankannya. Sehebat apapun dia berusaha.

Jadi seandainya saja aku masih bernafas detik ini, maka aku harusnya menghormati “kemurahan-Nya” itu. Setiap pagi harusnya aku sambut dengan sujud syukur.

Aku sewajarnya berusaha hidup menurut standard Nya. Berprestasi habis-habisan. Mengasihi istri, orang tua, keluarga, pembantu sedalam-dalamnya. Memberikan kontribusi sebesar mungkin bagi orang lain. Bukannya malah menyia-nyiakan hidup dengan kekawatiran, frustasi, dendam, iri hati dan segala yang menghabiskan waktuku dengan percuma. Benar-benar kesempatan yang harus digunakan sebaik mungkin.

Terima kasih TUHAN, jika selama ini Engkau masih bersabar menungguku berkubang dalam kebebalan. Maafkan ketidaktahudirian ku ini ya TUHAN. Terlalu sering aku memperlakukan hidup ini bukan sebagai anugrah luar biasa dari Mu. Memperlakukannya seolah aku adalah pemilik nyawaku sendiri. Memperlakukannya seolah-olah Engkau tidak tahu apa yang ku pikirkan, apa yang ku katakan dan apa yang ku perbuat.

Terima kasih jika selama ini pasukan malaikat Mu, tanpa aku sadari selalu berjaga-jaga atas ku. Memindahkan paku berkarat yang tergeletak dijalanku. Menggembosi ban mobilku, agar aku tidak melintasi jalan yang akan ditumbangi pohon itu. Membuat aku terlambat, agar tidak menaiki pesawat yang akan celaka itu. Semata-mata agar aku mendapat kesempatan “pulang” dengan selamat. ***

Catatan :

Tulisan ini kupinjam dari teman di milis, untuk kubagikan kepada teman2 ku sayang.
Aku tersentuh dengan tulisan ini ditambah kehilangan seorang sahabat yang selama ini tak sempat kujenguk,
Kesedihanku ditinggalkannya pergi membuat hati begitu muram. Menyesal tidak dapat bertemu dihari hari terakhir , aku begitu sibuk dan hampir melupakannya.
Maafkan aku Umi, aku kehilanganmu.
Kudoakan buat Umi Kalsum,
Semoga Amal kebaikannya selama di dunia diterima Allah SWT, dilapangkan kuburnya dan diampuni segala salah dan dosanya.
Semoga Allah menempatkannya diantara Ummat Nabi Muhammad lainnya, Amin.

Categories: inspirasi
Tagged: